rasionalika.darussunnah.sch.id – Berkurban adalah salah satu sunnah yang awal mulanya disyariatkan melalui Nabi Ibrahim AS. dan putranya yakni Nabi Ismail AS. yang mana kisahnya sangat masyhur di kalangan kita. Berkurban merupakan amalan yang sangat menonjol pada tanggal 10 Dzulhijjah atau Idul Adha, sehingga pada hari itu orang-orang muslim akan merayakan kemenangan dengan menyembelih hewan kurban. Adapun hewan kurban yang akan dikurbankan hendaknya berupa hewan yang baik baik lahir maupun bathin.
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sahabat Barra’ bin Azzib pada kitab At-Tirmidzi berbunyi :
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ فَيْرُوزَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَفَعَهُ قَالَ لَا يُضَحَّى بِالْعَرْجَاءِ بَيِّنٌ ظَلَعُهَا وَلَا بِالْعَوْرَاءِ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَلَا بِالْمَرِيضَةِ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَلَا بِالْعَجْفَاءِ الَّتِي لَا تُنْقِي
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عُبَيْدِ بْنِ فَيْرُوزَ عَنْ الْبَرَاءِ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ.
– الترمذي : أبو عيسى محمد بن عيسى بن سورة بن موسى بن الضحاك السلمي الترمذي.
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr berkata, telah mengabarkan kepada kami Jarir bin Hazim dari Muhammad bin Ishaq dari Yazid bin Abu Habib dari Sulaiman bin ‘Abdurrahman dari Ubaid bin Fairuz dari Al Bara bin Azib ia memarfu’kannya (kepada Nabi ﷺ), beliau bersabda, “Tidak boleh berkurban dengan kambing pincang dan jelas kepincangannya, atau kambing yang buta sebelah dan jelas butanya, atau kambing yang sakit dan jelas sakitnya, atau kurus yang tidak bersumsum (berdaging).” HR. At Tirmidzi (209 H – 279 H) 70 Tahun.
Abu Isa berkata, “Hadits ini derajatnya hasan shahih, dan kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Ubaid bin Fairuz, dari Al Bara. Hadits ini juga menjadi pedoman amal menurut para ulama.”
Istifadah:
Berkurban saat Idul Adha hukumnya wajib bagi yang mampu, sesuai pendapat Imam Abu Hanifah. Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Al Syafi’i hukumnya sunnah muakkad atau sunnah yang dikuatkan.
Selain itu, berkurban juga bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir pada hari raya Idul Adha. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Hajj yang berbunyi.
“Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. al-Hajj, 22:28)
Semua ibadah dalam syariat Islam akan dihukumi sah apabila ibadah tersebut sesuai dengan hukum dan syarat. Begitu pula berkurban, ketika seseorang hendak berkurban maka alangkah baiknya berkurban dengan hewan kurban yang baik secara lahir maupun bathin. Maksudnya baik secara lahir yakni hewan tersebut sehat tidak sakit maupun cacat fisiknya, lalu baik secara bathin yakni harta atau kebutuhan untuk membeli atau merawat hewan kurban tersebut menggunakan harta atau benda yang halal didapatnya. Maka apabila semuanya telah memenuhi hal-hal tersebut hewan kurban tadi akan diterima dan dihukumi sah.
Wallahu a’lam
Oleh Ghina Farhanah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here