rasionalika.darussunnah.sch.id – Manusia, Allah swt. ciptakan dengan berbagai macam bentuk tidak hanya bentuk fisiknya saja yang berbeda akan tetapi, sifat dan karakteristik setiap orang berbeda-beda. Hal itu bertujuan agar antara sesama manusia dapat saling mengenal satu sama lainnya sebagaimana Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13 

اَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: “Wahai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengena;. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui dan Maha Meneliti” (Q.S al-Hujarat : 13)

Karena kita diperintahkan oleh Allah untuk saling mengenal satu sama lainnya baik laki-laki, perempuan, tua, muda sudah pasti dalam berinteraksi ada saja hal-hal yang terkadang menimbulkan konflik diantara kita. Konflik tersebut baik bersifat individu maupun kelompok. Oleh karena itu butuh adanya penyelesaian konflik tersebut.

Lalu, bagaimana penyelesaiannya ketika kita menemukan adanya perselisihan di antara dua orang yang menyebabkan kemarahan salah satu di antara keduanya? Atau ketika berada di posisi tersebut?

Rasulullah saw. memberikan pengajaran ketika kita menemukan ada dua orang yang saling berselisih sehingga menimbulkan kemarahan terhadap orang yang berselisih tersebut. Sebagaimana yang tertuang di dalam kitab Sunan Abu Daud bab apa yang dikatakan ketika marah, Rasulullah bersabda:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ قَالَ اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ أَحَدُهُمَا تَحْمَرُّ عَيْنَاهُ وَتَنْتَفِخُ أَوْدَاجُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْرِفُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا هَذَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ فَقَالَ الرَّجُلُ هَلْ تَرَى بِي مِنْ جُنُونٍ 

Artinya

Dari Sulaiman bin Shurd ia berkata, “Ada dua orang saling mencela di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, salah seorang dari mereka matanya tampak memerah dan urat lehernya tampak menegang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Sungguh, aku tahu sebuah kalimat yang jika dibaca oleh seseorang maka akan hilang apa yang dirasakannya (rasa marah). Yaitu, aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Laki-laki yang marah itu lalu berkata, “Apakah engkau melihatku seperti orang gila?”

Imam Nawawi memberikan komentar terkait ucapan laki-laki tersebut. Menurut Imam Nawawi, ucapan laki-laki tersebut termasuk ucapan seseorang yang tidak memahami Agama Allah (Islam) dan tidak dididik dengan ilmu-ilmu syariat yang mulia. Laki-laki tersebut menyangka bahwa ucapan isti’adzah adalah ucapan yang dikhususkan hanya untuk orang gila saja. Akan tetapi hakikatnya sifat marah itu dari setan. Hal ini juga sebagaimana yang disampaikan Imam Abu Daud di dalam kitabnya pada hadis-hadis berikutnya pada bab tersebut.

Selain itu, Rasulullah saw. mengajarkan agar kita duduk ketika marah dalam posisi berdiri. Di dalam hadis yang lain, Rasulullah juga mengajarkan hendaknya ketika kita marah hendaknya secepat mungkin kita untuk wudu karena sifat marah dari setan. Selain itu, setan terbuat dari api dan cara satu-satunya untuk memadamkannya dengan wudu.

Sebagai manusia, sudah sewajarnya kita mengalami kondisi tersebut karena manusia tempatnya lupa dan salah. Akan tetapi, setidaknya kita berusaha untuk meminimalisir sifat lupa dan kesalahan tersebut. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah swt. dan selalu berusaha untuk cepat saling memaafkan dan mengikhlaskan bila dalam kondisi marah tersebut.

Wallahu A’lam

Oleh Masturo Hasan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here