rasionalika.darussunnah.sch.id – Salah satu peninggalan jahiliyah yang masih berlanjut pada masa awal Islam adalah bahwa mereka mengangkat seorang anak dan menasabkan anak itu pada ayah angkatnya. Sampai turunlah syariat Islam yang menjelaskan keharaman menyandarkan nasab anak pada ayah angkatnya. Imam al-Bukhori dalam kitab Shahih-nya pada bab “Menasabkan Diri Bukan Kepada Ayahnya” meriwayatkan :

حَدَّثَنَا أَصْبَغُ بْنُ الْفَرَجِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ عِرَاكٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيهِ فَهُوَ كُفْرٌ

Artinya :
Telah menceritakan kepada kami Ashbagh bin Al Faraj telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Amru dari Ja’far bin Rabi’ah dari Irak dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu (W. 57 H), dari Nabi ﷺ bersabda, “Janganlah kalian membenci ayah-ayah kalian, sebab siapa saja yang membenci ayahnya adalah kekufuran.”

HR. Bukhari (w. 256 h)

Hadis ini masih berkaitan dengan riwayat sebelumnya yaitu :

 مَنْ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

“Barangsiapa menasabkan diri kepada selain ayahnya padahal ia tahu bukan ayahnya maka surga haram baginya.”

Hal menyandarkan nasab anak pada selain ayah ini terus berlangsung hingga turun firman Allah pada surat al-Ahzab ayat 4 dan 5 :

 وَمَا جَعَلَ اَدْعِيَآءَكُمْ اَبْنَآءَكُمْ

“dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).”

اُدْعُوْهُمْ لِاٰ بَآئِهِمْ هُوَ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ

“Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah”

Dengan turunnya ayat ini mereka pun menasabkan anak pada ayah biologisnya, namun masih tersisa sebagian orang yang terkenal dengan nasab ayah angkatnya tapi hal ini hanya agar ia mudah dikenal saja tidak bermaksud menasabkan secara hakiki. Seperti sahabat Miqdad bin al aswad, al aswad adalah ayah angkatnya.

Dalam hadis ini terdapat ancaman keras dari Rasul Saw. bagi orang yang membenci ayah kandungnya dan menasabkan dirinya kepada orang lain, Rasul mensifatinya sebagai “kufr“. Namun kalimat “kufr” di sini menurut Ibn Hajar al-Atsqalani bukanlah kekafiran yang berarti ia akan kekal di neraka, yang di maksud adalah kufur nikmat, karena ia mengingkari kebenaran akan siapa ayah kandungnya, ini merupakan penegasan teguran keras dari Rasul akan haram dan betapa buruknya perkara ini.

Wallahu a’lam

Oleh Dini Sadiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here