rasionalika.darussunnah.sch.id – Sering kita mengalami ketika hendak melaksanakan shalat, perut kita keroncongan mengeluh ingin menyantap hidangan makanan. Terkadang, kita lebih memilih untuk melaksanakan ibadah sholat terlebih dahulu ketimbang makan dengan alasan agar tidak memiliki beban dan tanggungan kewajiban saat makan nanti.
Imam Abu Daud dalam kitab Sunan-nya pada bab “Apa seseorang harus shalat padahal ia sedang menahan hadas?” mengatakan :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ ، وَمُسَدَّدٌ ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الْمَعْنَى، قَالُوا : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ ، عَنْ أَبِي حَزْرَةَ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ . قَالَ ابْنُ عِيسَى فِي حَدِيثِهِ : ابْنِ أَبِي بَكْرٍ. ثُمَّ اتَّفَقُوا : أَخُو الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، قَالَ : كُنَّا عِنْدَ عَائِشَةَ ، فَجِيءَ بِطَعَامِهَا، فَقَامَ الْقَاسِمُ يُصَلِّي، فَقَالَتْ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” لَا يُصَلَّى بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ “

Artinya :

Dari Sayyidah Aisyah r.a (W. 57 H) berkata, Rasulullah Saw. pernah bersabda : “Tidak ada shalat dihadapan makanan, tidak pula saat menahan dua hadas”.

HR. Abu Dawud (202 H – 275 H: 73 Tahun)

Hadis ini menunjukan kemakruhan melaksanakan shalat saat makanan yang hendak kita santap sudah dihidangkan, sebab hati dan pikiran kita akan terdorong untuk menyantap makanan tersebut ketika shalat sehingga bisa mengganggu fokus dan konsentrasi dalam shalat yang bisa menyebabkan kualitas sholat kita menurun dihadapan Allah.

Namun bila dipantau dari kaidah ushul pada sebuah hukum,

الحكم يدور مع علته وجودا وعدما

“Ada tidaknya sebuah hukum berporos terhadap illatnya (alasan/penyebabnya)”

Hingga dapat disimpulkan, bila kita tidak tergoda oleh makanan tersebut saat shalat maka kemakruhannya hilang, karena illat atau alasan makruhnya adalah terganggunya shalat kita saat makanan tersebut dihidangkan.

Ini juga berbeda ketika waktu shalat akan habis, kiranya ketika menyantap makanan tersebut maka shalat yang kita laksanakan akan dianggap qada (tidak dilakukan tepat pada waktunya) yang berarti sama saja meninggalkan sholat dengan sengaja demi makan. Maka hukum melaksanakan shalatnya bisa berubah menjadi wajib dengan segera, karena kewajiban lebih diprioritaskan ketimbang yang lain.

Wallahu a’lam

Oleh Ahmad Rifai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here