rasionalika.darussunnah.sch.id – Pernahkah Anda mendengar dalam sebuah kesempatan seorang ibu atau ayah menyebut anak kandungnya sendiri sudah bukan bagian dari keluarganya lagi? Atau sebaliknya, seorang anak tak lagi mengakui ayah-ibunya sebagai orang tua lantaran alasan tertentu?

Sikap pemutusan hubungan darah semacam itu umumnya dipicu oleh gejolak emosional yang tinggi, lepas kendali, dan egosentrisme. Kasus yang sama juga kadang terjadi pada hubungan antarsaudara kandung, cucu-kakek, paman-keponakan, dan seterusnya. Islam melarang keras sikap semacam itu.

Allah SWT berfirman :

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ (22) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ (23)

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka“. (QS. Muhammad : 22-23)

Allah memberitahukan bahwa barang siapa yang berpaling dari janji Allah yang berupa taklif syari’at (beban-beban syari’at) dan hukum-hukum islam, maka dia akan kembali kepada kebiasaan lama mereka pada masa ke jahiliyahan, yakni berupa melakukan penumpahan darah dan pemutusan tali persaudaraan, yaitu tidak berbuat baik kepada kaum kerabat baik dalam ucapan, perbuatan, atau pemberian harta. Oleh karena itu, Dia melarang berbuat kerusakan di muka bumi ini secara umum dan pemutusan tali persaudaraan secara khusus.

Hal seperti ini juga dijelaskan di dalam kitab Riyadus Shalihin dinuqil dari riwayat Imam Bukhori pada bab ke-41 tentang larangan durhaka kepada kedua orang tua dan memutuskan tali persaudaraan sebagai berikut :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا الْجُرَيْرِيُّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلَاثًا قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلَا وَقَوْلُ الزُّورِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ (رواه بخاري)
البخاري : وهو أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة الجعفي البخاري

Artinya :
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Al Mufadhdhol telah menceritakan kepada kami Al Jurairiy dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah dari bapaknya radhiallahu’anhu berkata; Nabi ﷺ berkata, “Apakah kalian mau aku beritahu dosa besar yang paling besar?” Beliau menyatakannya tiga kali. Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulullah”. Maka beliau bersabda, “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua”. Lalu beliau duduk dari sebelumnya berbaring kemudian melanjutkan sabdanya, “Ketahuilah, juga ucapan keji (curang) “. Dia berkata, “Beliau terus saja mengatakannya berulang-ulang hingga kami mengatakannya ‘ Duh sekiranya beliau diam”.
HR. Al-Bukhori ( 194 H – 256 H : 62 tahun)

Dari hadits di atas dapat diketahui bahwa dosa besar yang paling besar setelah syirik adalah uququl walidain (durhaka kepda kedua orang tua). Dalam riwayat lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa diantara dosa-dosa besar yaitu menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh diri, dan sumpah palsu [HR. Al-Bukhori]. Kemudian diantara dosa-dosa besar yang paling besar adalah seseorang melaknat kedua orang tuanya [HR. Al-Bukhori].

Dalam hadis tersebut juga terdapat dalil yang menunjukkan pembagian dosa menjadi dosa besar dan dosa kecil. Dan ketahuilah bahwa menghindari dosa besar berarti menghapus dosa kecil, sebagaimana Allah berfirman:

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَاۤىِٕرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”. (QS. An-Nissa : 31)

Durhaka kepada kedua orang tua termasuk perbuatan yang termasuk kedalam dosa besar, yang dimaksud durhaka adalah mempergauli (memperlakukan) mereka dengan tindakan-tindakan menyakitkan yang memang bertolak belakang dengan syari’at, atau tidak memberi bakti kepada keduanya. Sedangkan yang dimaksud pemutusan tali persaudaraan yaitu dengan tidak berbuat baik kepada kerabat yang mempunyai hubungan rahim, tidak memperhatikan keadaan mereka atau tidak juga menanyakan kondisi mereka meski hanya dengan menyampaikan salam.

Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, bahkan secara khusus mengarang kitab berjudul at-Tibyân fî Nahyi ‘an Muqâtha’atil Arhâm wal Aqârib wal Ikhwân (Penjelasan tentang Larangan Memutus Hubungan Mahram, Kerabat, dan Persaudaraan).

Menurut Hadratussyekh, yang paling wajib dilakukan oleh manusia adalah menjaga silaturahim atau tali keluarga dengan orang-orang yang termasuk kategori mahram (orang yang haram dinikahi), antara lain saudara kandung, ayah, ibu, kakek, nenek dan terus ke atas, serta paman dan bibi. Lain halnya dengan anggota keluarga yang bukan mahram semisal sepupu, yang tak sampai pada level wajib. (Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, at-Tibyân fî Nahyi ‘an Muqâtha’atil Arhâm wal Aqârib wal Ikhwân dalam Irsyâdus Sârî, tt. [Jombang: Tebuireng], halaman 9).

Dalam konteks yang lebih luas, silaturahim bisa dimaknai sebagai hubungan persaudaraan universal antar-manusia. Tiap manusia pada dasarnya merupakan keturunan dari leluhur yang sama, yakni Nabi Adam. Karena itu sudah sepantasnya mereka saling mengasihi satu sama lain dan senantiasa melestarikan hubungan baik.

Dinamika kehidupan memang kadang menyajikan kejutan yang tak mengenakkan. Pun dalam relasi kekeluargaan. Dalam situasi ini, hendaknya seseorang tetap berpikir jernih, tidak gegabah memotong tali kekeluargaan, sehingga tak hanya merusak keutuhan unit masyarakat paling kecil itu tapi juga menerobos aturan agama yang amat menjunjung tinggi silaturahim.

Wallahu A’lam

Oleh Mutiara Intan Permatasari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here