rasionalika.darussunnah.sch.id – Godaan terberat adalah saat kita merasa lebih baik dari orang lain. Karena sikap “merasa lebih” bisa membuat kita merendahkan yang lain. Ghibah, menghina, meremehkan itu di dalamnya terselip sikap merasa lebih baik dari pada orang yang kita jadikan bahan pembicaraan.
Hal demikian dilarang dalam Islam dan dosanya besar. Maka, seyogyanya sebagai umat Islam, kita perlu memuasakan lidah kita supaya orang lain selamat dari tajam dan bahanya lidah kita. Imam Muslim dalam kitab sahihnya pada bab “Haramnya Berlaku Zalim Kepada Sesama Muslim, Menghina, dan Meremehkan” mengatakan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ يَعْنِي ابْنَ قَيْسٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَوْلَى عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ 
مسلم : أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري.

Artinya :
Dari Abu Hurairah ra. (W. 57 H) berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (seraya menunjuk dadanya), beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”
HR. Imam Muslim (194 H – 256 H : 62 tahun)

Seperti yang sama-sama kita tahu bahwa, Islam sangat menjunjung tinggi nilai tata krama terhadap saudara. Salah satunya dengan saling menjaga lisan dan perbuatan, karena terkadang kekhilafan ucapan maupun perbuatan dapat merusak hubungan.

Namun, fenomena yang sering kita lihat sekarang nyatanya tidak sedikit orang yang berperilaku sebaliknya.
Di bulan ramadhan kemarin, godaan merasa lebih baik, merasa lebih alim bisa juga menimpa mereka yang rajin beribadah. Saat salat, ia merasa bacaannya lebih bagus dari yang lain, hafalannya lebih banyak, bahkan ketika gerakan salatnya lebih lama, ia merasa lebih khusyuk dari pada yang salatnya kilat.
Perasaan lebih alim itu harus kita latih untuk kita pendam, karena yang menilai kualitas ibadah maupun puasa kita hanyalah Allah swt.
Maka jadikanlah puasa sebagai cara untuk kita merasa tawaduk, sama dengan yang lain, bukan merasa lebih alim dari yang lain. Karena boleh jadi orang yang kita remehkan tersebut lebih bertakwa, lebih mulia disisi Allah.
Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11).

Sifat meremehkan orang lain juga termasuk dalam kategori sombong. Dalam salah satu sabda Nabi saw:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Imam Muslim).

Apabila selepas Ramadan ini kita masih merasa lebih alim, lebih mulia daripada yang lain berarti puasa kita belum memberi efek pada perilaku kita sehari-hari, naudzubillah.
Semoga Allah swt senantiasa menjaga lisan, dan perbuatan kita dari sikap menghina dan meremehkan orang lain. Aamiin

Wallahu A’lam

Oleh Ilmi Rosyada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here