rasionalika.darussunnah.sch.id – Pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang lemah. Karena dalam keyakinan kita, kekuatan dan keperkasaan yang sesungguhnya hanya milik Allah. Sehingga dalam kehidupan kita sehari-hari, kita dituntut untuk selalu mengingat Allah dan meyakini adanya izin dan kuasa Allah atas apa yang kita lakukan.

Salah satu wujud dari keyakinan tersebut adalah, Islam mengajarkan kita untuk menyertakan kalimat masyi’ah dalam berinteraksi antar sesama. Contohnya, seorang laki-laki yang diundang untuk menghadiri undangan pernikahan temannya, maka laki-laki ini sebaiknya untuk menyertakan kalimat masyî’ah dalam memenuhi undangan tersebut. Seperti, “InsyaAllah saya akan hadir”.

Hal ini ditegaskan Allah dalam surat al-Kahfi ayat 23-24 :

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا . إِلّا أَنْ يَشَاءَ الله

“Dan janganlah engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Aku akan melakukannya besok.’ Kecuali jika Allah menghendaki atau mengucapkan insyaallah.”

Kata insyaAllah ini juga merupakan wujud dari ketawakalan hamba kepada Allah. Dan, juga menjadi bukti bahwa di balik segala sesuatu ada zat Yang Maha Menentukan, yaitu Allah swt.

Namun, kata InsyaAllah ini tidak layak digunakan ketika kita berdoa kepada Allah swt. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” لَا يَقُولُ أَحَدُكُمُ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ ؛ فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ “.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan; ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki dan rahmatilah aku jika Engkau menghendaki. Namun hendaknya ia meneguhkan permintaan, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa Allah.”

Dalam Tuhfatul Ahwâzî, Syekh Al-Mubârakfurî berkomentar bahwa hadis ini menjelaskan kesunahan untuk teguh dan serius dalam berdoa kepada Allah, tanpa menyertakannya dengan kata “insyaAllah”. Karena kata “insyaAllah” hanya pantas dipakaikan kepada orang yang mukrah (dipaksa/terpaksa). Sedangkan Allah bersih dari segala bentuk keterpaksaan. Sebab hanya Allah-lah Zat Yang Maha Mukrih (memaksakan) atau mempunyai kekuatan dan kekuasaan.

Di samping itu, menghindari memakai kata “insyaAllah” dalam doa, juga merupakan wujud dari keseriusan kita dalam berdoa. Memiliki harapan yang tinggi agar doa dikabulkan, sangat dianjurkan oleh Nabi saw.

Sehingga, dalam riwayat Muslim dikatakan:

وَلْيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ ؛ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ 

Hendaklah dia mempertebal harapan. Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa keberatan untuk memberikan sesuatu”. HR. Muslim.

Di lain kesempatan, Nabi juga Bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa sungguh Allah biasanya tidak mengabulkan doa yang keluar dari hati yang tidak konsentrasi dan lalai” (HR. al-Tirmidzî)

Dari penjelasan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam berdoa, kita mestilah memiliki keyakinan dan keseriusan bahwa doa kita pasti akan dikabulkan Allah swt. Oleh karena itu, memakai kata “insyaAllah” dalam doa mesti dihindarkan, karena ini menunjukkan ketidakseriusan dan keraguan kita pada Allah sebagai zat tempat kita meminta.

Oleh Abdul Kamil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here