rasionalika.darussunnah.sch.id – Maslahat menjadi prioritas utama dalam pandangan syariat. Setiap hukum dan ketentuan pensyariatan pasti tidak akan terlepas dari adanya maslahat untuk manusia sendiri. Termasuk dalam hal ini adalah bersumpah. Saat sumpah dan maslahat saling bertentangan,  syariat memberikan saran untuk lebih mendahulukan maslahat ketimbang sumpah. Dalam kitab Riyad al-Salihin Bab “Nadbu Man Halafa ‘ala Yaminin Faro’a Ghoiraha Khoiron Minha”, Riwayat dari Sahabat Abdurrahman bin Samurah,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَمُرَةَ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ ؛ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا، وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ، وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ “.

Artinya:

Dari Abdurrahman bin Samurah r.a. (w. 50 H) berkata, Nabi saw. bersabda “Wahai Abdurrahman, janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika kamu diberi jabatan dengan tanpa meminta, maka kamu akan dipalingkan kepadanya, dan jika kamu diberi jabatan karena meminta, maka kamu akan ditelantarkan, dan jika kamu bersumpah, lantas kamu lihat ada suatu yang lebih baik, maka bayarlah kafarat sumpahmu dan lakukanlah yang lebih baik.” HR. al-Bukhari (194 H – 256 H: 62 Tahun)

Jabatan memang hal yang diincar banyak orang, namun tidak mesti jabatan akan memberikan segalanya. Terkadang jabatan malah merepotkan dan menyusahkan kita karena tingginya tanggung jawab yang diberikan. Oleh karenanya, Nabi sendiri melarang untuk meminta jabatan.

Orang yang memiliki jabatan tinggi juga mesti memiliki tanggung jawab yang tinggi. Dan kebanyakan orang yang memiliki jabatan tinggi hanya terlena kepada fasilitas dan kemegahan yang ia dapatkan sehingga lalai akan tanggung jawabnya.

Korelasinya, berbeda dengan sumpah. Saat seseorang bersumpah dan ternyata ia terlena atau terpedaya untuk melanggar sumpahnya, maka alangkah baiknya bila hal tersebut bisa diteliti kembali.

Semisal dalam pandangannya melihat bahwa melanggar sumpahnya lebih baik atau bahkan bisa mendatangkan maslahat yang lebih besar, maka alangkah baiknya sumpah tersebut dilanggar. Sebab di antara tujuan sumpah itu sendiri adalah untuk maslahat orang yang bersumpah itu sendiri, dan hal ini bersifat fleksibel dan bisa berubah.

Hal ini menunjukan kelonggaran syariat dalam menyikapi setiap keadaan. Syariat tidak bersifat statis dan jumud sehingga hukum islam dan konsekuensinya bisa menyesuaikan sesuai dengan perkembangan zaman sehingga bisa merealisasikan Islam yang bersifat Shalih likulli zaman wa makan.

Wallahu A’lam

Oleh Ahmad Rifai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here