rasionalika.darussunnah.sch.id – Hal-hal yang berkaitan dengan Nabi saw. selalu menjadi perhatian para sahabat kala itu. Mereka selalu memerhatikan apa yang disabdakan dan dilakukan oleh Nabi saw. Dari hal-hal yang tidak bertaut dengan agama, seperti cara duduk, berjalan, berdiri dan lain sebagainya, sampai pada hal-hal yang berkaitan dengan agama, seperti salat, puasa, dll.

Abdullah bin Umar r.a. misalnya, ia pernah memerhatikan cara duduk Nabi saw ketika berada di Kakbah. Sebagaimana terdapat dalam Sahih al-Bukhari, kitab “Isti’zan”, bab “Duduk Ihtiba

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي غَالِبٍ أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِفِنَاءِ الْكَعْبَةِ مُحْتَبِيًا بِيَدِهِ هَكَذَا. (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma (W. 76 H), dia berkata; “Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di serambi Kakbah duduk ihtiba` dengan tangannya seperti ini.

HR. Al-Bukhari (194 H- 256 H, 62 Tahun)

Duduk ihtiba adalah duduk dengan cara memeluk kedua lutut, baik memeluk dengan tangan maupun dengan sehelai kain. Hadis tersebut di atas menunjukan bahwa duduk ihtiba diperbolehkan, karena Rasul saw. sendiri sesekali duduk dengan cara tersebut.

Namun perlu diketahui, bahwa pada redaksi hadis yang lain, duduk ihtiba terkadang dilarang. Larangan tersebut setidaknya pada 2 keadaan, yaitu:

1. Ketika hanya memakai satu pakaian. Misalnya, hanya memakai sarung atau gamis, maka jangan duduk ihtiba, khawatir aurat akan terbuka.

2. Ketika mendengar khatib berkhutbah. Karena duduk tersebut dapat mendatangkan kantuk sehingga melalaikan kita dari mendengar isi khutbah. Bahkan akan membatalkan wudu jika kita sampai tertidur.

Wallahu a’lam

Oleh Baharudin Ardani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here