rasionalika.darussunnah.sch.id – Sumpah sering kali digunakan untuk menguatkan pendapat. Kadang sumpah juga wajib demi kemaslahatan bersama. Seperti contoh sumpah dalam pembelaan diri di hadapan pengadilan demi menegakan maqashid syariah. Lantas apakah setiap hal boleh disumpahkan? Apa makhluk lemah seperti manusia bisa mengatasnamakan sumpahnya dengan orang lain? Dalam kitab Riyad al-Salihin, Bab “Al-Nahy ‘an al- Half bi al-Makhluq” riwayat dari Sahabat Ibn Umar r.a.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّهُ أَدْرَكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ فِي رَكْبٍ وَهُوَ يَحْلِفُ بِأَبِيهِ، فَنَادَاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَلَا إِنَّ اللَّهَ يَنْهَاكُمْ أَنْ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ، فَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ، وَإِلَّا فَلْيَصْمُتْ “.

Artinya:

Dari Ibnu Umar (w. 73 H) berkata, Ia mendapati Sayyidina Umar Bin al-Khattab sedang menunggangi tungganan seraya bersumpah dengan nama ayahnya, maka ia dipanggil oleh Nabi saw. dan beliau bersabda “Ingatlah, sesungguhnya Allah melarang kalian untuk bersumpah atas nama ayah-ayah kalian, siapapun yang bersumpah maka bersumpahlah atas nama Allah, bila tidak maka hendaknya ia diam

HR. al-Bukhari (194 H – 256 H: 62 Tahun)

Istifadah:

Sebagai makhluk ciptaan Allah, tentu kita membutuhkan suatu sandaran yang kokoh saat bersumpah. Seseorang yang bersumpah bertujuan untuk menguatkan pendapatnya, atau kebenaran atas persaksian ataupun tindakan dirinya dan orang lain.

Oleh karena itu, kita tidak diperkenankan untuk bersumpah atas nama selain Allah, sebab hal tersebut menunjukan bahwa kita menganggap adanya hal yang lebih besar dan lebih perkasa selain Allah. Berbeda dengan Allah sendiri, yang untuk menunjukan kehebatan dan keagungan-Nya, Ia bersumpah dalam Al-Quran atas nama makhluk ciptaan-Nya, seperti Demi Waktu, Demi Bulan, Matahari, dan lainnya.

Sumpah dijadikan jalan akhir dalam menyelesaikan sebuah pertikaian. Ketika kedua belah pihak tidak memiliki bukti yang kuat atas gugatannya masing-masing, dan keduanya berani bersumpah di hadapan hakim, maka urusan keduanya  telah dipasrahkan sepenuhnya kepada Allah swt. dan Dia-lah yang akan menghakimi mereka kelak.

Konsekuensi bagi yang melanggar sumpahnya akan dikenakan beban pembayaran kafarat yamin, yakni denda yang harus dibayar bagi orang yang melanggar sumpahnya. Kafarat ini ada tiga pilihan, yaitu memerdekakan budak, memberi makan enam puluh orang miskin, berpuasa selama dua bulan. Bila tidak mampu menjalankan ketiganya, maka beban kafarat ini akan terus menetap hingga terlunasi.

Wallahu A’lam

Oleh Ahmad Rifai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here