rasionalika.darussunnah.sch.id – Shalat memiliki dua dimensi yang harus dipenuhi dan dilaksanakan: Pertama, dimensi ritual yang mencakup syariat dan tata cara shalat yang benar dan diajarkan Rasul. Kedua, dimensi spiritual yang mencangkup khusyuk, salah satu upaya untuk mencapai kekhusyukan yaitu dengan tidak menoleh ketika shalat, Imam Tirmidzi dalam kitab Sunannya pada bab “Larangan Menoleh Dalam Shalat” mengatakan:

حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ مُسْلِمُ بْنُ حَاتِمٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ: قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا بُنَيَّ إِيَّاكَ وَالِالْتِفَاتَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّ الِالْتِفَاتَ فِي الصَّلَاةِ هَلَكَةٌ. فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَفِي التَّطَوُّعِ لَا فِي الْفَرِيضَةِ”. (رواه الترمذي)
الترمذي : أبو عيسى محمد بن عيسى بن سورة بن موسى بن الضحاك السلمي الترمذي

Artinya :
Dari Anas bin Malik r.a (W. 91 H) berkata, Rasulullah Saw. bersabda kepadaku, “Wahai anakku, janganlah kamu menoleh dalam shalat, karena menoleh dalam shalat adalah penyebab kebinasaan, jika kamu terpaksa untuk menoleh dalam shalat, maka lakukanlah dalam shalat sunnah, tidak dalam shalat fardlu”.
H.R Tirmidzi. (209 H-279 H) 70 tahun

Maksud kerusakan atau kebinasaan dalam hadis di atas adalah menaati tipudaya setan karena hilang konsentrasi dan fokus mengingat Allah, mengenai hal ini Rasul selalu menjauhi hal-hal yang membuatnya tidak khusyuk seperti dalam riwayat Aisyah, Beliau mengembalikan baju yang ada gambarnya kepada Abu Jahm dan menggantinya dengan baju yang tidak ada gambarnya karena baju tersebut menganggu kekhusyukan dalam salat.

Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 45 :

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya shalat itu sangat berat kecuali bagi mereka yang khusyuk.” (Al-Baqarah: 45)

Meskipun pada praktiknya, shalat yang khusyuk itu sangat sulit, namun perlu diupayakan dan dibiasakan sehingga tidak hanya bentuk ritual saja, dimensi spiritualnya juga harus diperhatikan dan diamalkan.

Wallahu A’lam

Oleh: Dede Yasin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here