rasionalika.darussunnah.sch.id – Dunia memang laksana fatamorgana. Sepertinya megah, namun pada hakikatnya lemah. Menurut bahasa Arab, dunia berarti hina dan dekat. Hina karena harganya yang tak ada apa-apa dibanding akhirat. Dekat karena kedekatannya dengan kampung akhirat. Memang dunia ini sering disebut dengan ladang yang hijau dan manis, namun maksud tersebut bukan berarti mempersilahkan manusia untuk menikmati segalanya.

Justru kita harus berhati-hati dan waspada dengan keindahan dunia, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan dalam kitab Shahih al-Bukhari, pada bab al-shadaqah ‘ala -al’yataamaa:

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ هِلَالِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ حَدَّثَنَا عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُحَدِّثُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَسَ ذَاتَ يَوْمٍ عَلَى الْمِنْبَرِ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ فَقَالَ إِنِّي مِمَّا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَزِينَتِهَا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَيَأْتِي الْخَيْرُ بِالشَّرِّ فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقِيلَ لَهُ مَا شَأْنُكَ تُكَلِّمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا يُكَلِّمُكَ فَرَأَيْنَا أَنَّهُ يُنْزَلُ عَلَيْهِ قَالَ فَمَسَحَ عَنْهُ الرُّحَضَاءَ فَقَالَ أَيْنَ السَّائِلُ وَكَأَنَّهُ حَمِدَهُ فَقَالَ إِنَّهُ لَا يَأْتِي الْخَيْرُ بِالشَّرِّ وَإِنَّ مِمَّا يُنْبِتُ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ أَوْ يُلِمُّ إِلَّا آكِلَةَ الْخَضْرَاءِ أَكَلَتْ حَتَّى إِذَا امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتْ عَيْنَ الشَّمْسِ فَثَلَطَتْ وَبَالَتْ وَرَتَعَتْ وَإِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَنِعْمَ صَاحِبُ الْمُسْلِمِ مَا أَعْطَى مِنْهُ الْمِسْكِينَ وَالْيَتِيمَ وَابْنَ السَّبِيلِ أَوْ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّهُ مَنْ يَأْخُذُهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَيَكُونُ شَهِيدًا عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Abu sa’id Al-khudri Ra, (w. 63 H) menceritakan bahwa Nabi ﷺ suatu hari duduk di atas mimbar dan kami pun duduk di dekatnya lalu beliau berkata,: “Sesungguhnya diantara yang aku khawatirkan terjadi pada kalian sepeninggalku adalah apabila telah dibuka untuk kalian (keindahan) dunia serta perhiasannya”. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berkata,: “Wahai Rasulullah, apakah kebaikan dapat mendatangkan keburukan?”. Maka Nabi ﷺ terdiam. Dikatakan kepada orang yang bertanya tadi, “Apa yang telah kamu lakukan, kamu mengajak Nabi ﷺ berbicara yang membuat Beliau tidak berbicara kepadamu”. Maka kami melihat bahwa wahyu sedang turun kepada beliau. Abu Said berkata,: “Beliau mengusap keringatnya yang banyak lalu berkata,: “Mana orang yang bertanya tadi?”. Lalu nampak beliau memuji Allah seraya bersabda, “Kebaikan tidak akan mendatangkan keburukan. Sesungguhnya apa yang ditumbuhkan pada musim semi dapat membinasakan atau dapat mendekatkan kepada kematian kecuali seperti (ternak) pemakan dedaunan hijau yang apabila sudah kenyang dia akan memandang matahari lalu mencret kemudian kencing lalu dia kembali merumput (makan lagi). Dan sungguh harta itu seperti dedaunan hijau yang manis. Maka beruntunglah seorang muslim yang dengan hartanya dia memberi orang-orang miskin, anak yatim dan ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal) “. Atau seperti yang disabdakan oleh Nabi ﷺ, “Dan sesungguhnya barangsiapa yang mengambil harta dunia tanpa hak ia seperti orang yang memakan namun tidak pernah kenyang dan harta itu akan menjadi saksi yang menuntutnya pada hari kiamat”.

HR. Al-Bukhari (194 H – 256 H)  62 tahun.

Kita sebagai manusia harus bisa menjaga diri agar tidak terjerumus oleh hebatnya sihir dunia. Manusia dituntut untuk selalu waspada terhadap keindahan dan kenikmatannya. Jika tidak, maka hijaunya dunia akan memalingkan manusia dari Tuhannya dan alam selanjutnya, yaitu akhirat. Bukankah kenikmatan dunia itu amatlah kecil jika dibandingkan dengan nikmatnya akhirat?  Begitulah pesan Nabi yang tersirat dalam hadis riwayat Muslim. Nabi bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Sesungguhnya dunia itu manis. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu takutilah dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Israil adalah wanita.

Untuk menghadapi zaman sekarang ini, zaman yang serba mudah, kita harus lebih pandai dalam melangkah dan memutuskan sesuatu agar tidak salah langkah, apalagi urusan duniawi khususnya terkait perempuan, karena perempuan adalah salah satu cobaan terberat bagi seorang laki-laki di era millenial ini.

Nah, untuk menutup semua jalan yang memunculkan fitnah dengan wanita maka setiap jalan yang memunculkan fitnah dengan wanita wajib bagi kaum muslimin untuk menutupnya, makanya wajib bagi seorang wanita untuk berhijab dari laki-laki non mahram, hendaklah seorang wanita menutup wajahnya, demikian pula menutup kedua tangan dan kakinya menurut pendapat banyak ulama. Demikian pula wajib atas seorang wanita untuk menjauhi ikhtilat (campur baur) dengan kaum lelaki, karena ikhtilat dengan kaum lelaki adalah fitnah dan sebab terjerumusnya dalam kejelekan dari kedua belah pihak, baik dari pihak lelaki maupun wanita.

Wallahu a’lam

Moh Fawaid Rahman el-khair

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here