rasionalika.darussunnah.sch.id – Setiap sesuatu pasti memiliki hak dan kewajibannya sendiri-sendiri. Tak terlepas dari itu, begitupula sumpah. Sumpah juga memiliki beberapa ketentuan dalam menunaikannya. Tidak serta merta sumpah bisa diucapkan dan dilontarkan begitu saja. Ketentuan hak dalam bersumpah bisa kita lihat dalam kitab Shahih al-Bukhari, pada bab al-hukmu fi al-bi’ri wa nahwiha, pada kitab al-ahkaam, diriwayatkan:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ وَالْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “لَا يَحْلِفُ عَلَى يَمِينِ صَبْرٍ يَقْتَطِعُ مَالًا وَهُوَ فِيهَا فَاجِرٌ إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ” فَأَنْزَلَ اللَّهُ { إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا } الْآيَةَ فَجَاءَ الْأَشْعَثُ وَعَبْدُ اللَّهِ يُحَدِّثُهُمْ فَقَالَ فِيَّ نَزَلَتْ وَفِي رَجُلٍ خَاصَمْتُهُ فِي بِئْرٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَكَ بَيِّنَةٌ قُلْتُ لَا قَالَ فَلْيَحْلِفْ قُلْتُ إِذًا يَحْلِفُ فَنَزَلَتْ { إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ } الْآيَةَ

Artinya:

Dari Abu Wa’il mengatakan, Abdullah (w. 32 H) mengatakan, Nabi ﷺ bersabda, “Tidaklah seseorang bersumpah dusta dengan tujuan merampas harta orang lain dan dia bertindak zalim dengan sumpahnya itu, kecuali ia akan bertemu Allah dan Allah dalam keadaan murka terhadapnya, ” kemudian Allah menurunkan ayat ‘Sesungguhnya orang-orang yang membeli janji Allah dan sumpah mereka dengan harga yang sedikit’ (QS. Ali ‘Imran.77), kemudian Al-Asy’ats datang ketika Abdullah sedang menceritakan kepada mereka, dan mengatakan; sebenarnya ayat itu diturunkan kepada saya dan seseorang yang kuajak bersengketa tentang sebuah sumur, kemudian Nabi ﷺ bersabda, “Apa kamu punya bukti?” “TIDAK” Jawabku. Nabi bersabda, “Kalau begitu, suruhlah lawan sengketamu bersumpah!” maka Abdullah mengatakan; ‘Kalau bukti sekedar sumpah, tentu dia akan bersumpah. Lantas turunlah ayat: ‘Sesungguhnya orang-orang yang membeli janji Allah dan sumpah mereka dengan harga yang sedikit….sampai akhir ayat ‘ (QS. Ali ‘Imran.77)

HR. Al-Bukhari (194 H – 256 H: 62 Tahun)

Istifadah:

Hadis ini menerangkan bahwa kita tidak boleh mengklaim kepemilikan orang lain tanpa adanya hak, termasuk dalam urusan sumpah juga demikian. Ini menunjukan betapa pedulinya syariat terhadap keamanan dan penjagaan harta sehingga termasuk dari kategori maqosid al-syari’ah.

Selain itu, bersumpah juga tidak selayaknya mengatasnamakan harta orang lain. Seharusnya sumpah hanya disandarkan kepada Sang Pencipta. Sebab sumpah tidak sah bila diatasnamakan pada selain Allah.

Karena hakikatnya, sumpah adalah bentuk penyandaran makhluk yang lemah kepada hal yang sangat kuat dan kokoh yang tidak lain adalah Allah Swt. Menyandarkan sumpah pada selain-Nya berarti secara tidak langsung meyakini adanya hal yang lebih besar ketimbang Allah Swt.

Wallahu A’lam

Oleh: Ahmad Rifai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here