rasionalika.darussunnah.sch.id – Dalam beragama, umat Islam sangat memahami bahwa mereka harus senantiasa meningkatkan kualitas serta kuantitas takwanya kepada sang khalik, salah satunya dengan memperbanyak amal ibadah dengan tujuan mendapat rida Allah swt. yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan yang hakiki kelak. Usaha umat lslam dalam merealisasikan misi beragama di atas tentu tidak bersyaratkan pada hal yang akan menyulitkan mereka, yang dalam hal ini Allah swt. sendiri merahmati umat Nabi Muhammad saw. dengan kemudahan-kemudahan dibanding umat-umat terdahulu. Rasulullah saw. pun menginformasikan kepada kita tentang strategi beribadah yang lebih baik untuk kita lakukan. Dalam kitab Shahihnya, imam al-Bukhari menyampaikan sebuah hadis:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى ، حَدَّثَنَا يَحْيَى ، عَنْ هِشَامٍ ، قَالَ : أَخْبَرَنِي أَبِي ، عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا، وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ، قَالَ : ” مَنْ هَذِهِ ؟ ” قَالَتْ : فُلَانَةُ، تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا، قَالَ : ” مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ ؛ فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا “. وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ.

البخاري :  وهو أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بَردِزبَة الجعفي البخاري.

Artinya:

Dari Aisyah ra. (w. 58 H) bahwa Nabi ﷺ mendatanginya dan bersamanya ada seorang wanita lain, lalu Nabi ﷺ bertanya, “Siapa ini?” Aisyah menjawab, “Si fulanah”, Lalu diceritakan tentang salatnya. Maka Nabi ﷺ bersabda, “Tinggalkanlah apa yang tidak kalian sanggupi, demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian sendiri yang menjadi bosan, dan agama yang paling dicintai-Nya adalah apa yang senantiasa dikerjakan secara rutin dan kontinu.” HR. Al-Bukhari (194 H – 256 H) 62 tahun.

Manusia pun seorang makhluk biasa, ia memiliki keterbatasan serta kekurangan dalam berhamba kepada Allah swt. Tak jarang rasa malas, bosan, serta lalai menghampiri jiwa-jiwa umat Islam untuk mengganggu mereka dalam beribadah.

Oleh karenanya, Rasulullah saw. memerintahkan seorang perempuan pada hadis di atas untuk meninggalkan amal ibadah yang telah banyak ia lakukan tapi membebaninya. Bukan tanpa alasan. Termasuk fitrah seorang manusia, jika telah melakukan suatu amal ibadah dengan kuantitas tinggi yang membebaninya, cepat atau lambat akan merasakan bosan serta letih, dan ini akan berimplikasi pada surut serta terputusnya amalan tersebut.

Sebuah kisah tentang sosok Abdullah bin Amr bin Ash ra. muda yang sangat cinta pada amalan-amalan baik, seperti berpuasa setiap hari dan selalu mendirikan salat malam. Setelah mengetahui hal itu, Rasulullah memerintahkannya agar mengurangi kadar puasanya menjadi tiga hari di setiap bulannya. Karena Abdullah bin Amr merasa terlalu ringan, Rasulullah pun menaikkannya menjadi sehari puasa dan sehari tidak. Tetap dirasa masih ringan, tetapi Rasulullah kokoh dengan pendapatnya bahwa tidak bisa lebih banyak dari ini (puasa Nabi Daud as.).

Di umurnya yang semakin besar, Abdullah bin Amr pun merasa puasa Nabi Daud ini memberatkannya. Ia berkata, “Andai saja saat itu aku menerima keringanan Rasulullah saw.”. Akhirnya, ia merubah kebiasaan puasanya menjadi 15 hari puasa dan 15 hari yang lain tidak, secara bergantian.

Terdapat pesan Rasulullah yang dapat kita refleksikan dalam hal ini. Seyogyanya sebagai hamba yang masih melekat dalam diri kita sifat fitrah manusia, agar tidak perlu menyusahkan diri sendiri dengan amalan-amalan berkuantitas tinggi yang akhirnya akan ditinggalkan karena dirasa membuat letih dan bosan. Maka, beramal sedikit secara kontinu (istikamah) itu lebih utama dan paling Allah swt. cintai. ‘Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit’, ‘Istikamah lebih baik dari seribu karamah’, dua peribahasa masyhur yang menekankan akan esensi berisitikamah.

Wallahu a’lam

Oleh Fikri Akbar Fadilah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here