rasionalika.darussunnah.sch.id – Tak terasa kita telah memasuki bulan Ramadhan, bulan yang diwajibkan didalamnya untuk berpuasa sebulan penuh dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Pada bulan inilah umat manusia melakukan banyak amal sholih karena berbagai kemuliaan yang terkandung di dalamnya, seperti bulan diampuninya dosa-dosa, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran dll.

Karena alasan-alasan di atas akhirnya masyarakat berbondong-bondong dalam menyemarakkan masjid dengan melakukan berbagai macam amalan dan ibadah. Banyak sekali amalan yang bisa kita lakukan dalam masjid, salah satu contoh amalan tersebut adalah iktikaf. Iktikaf sendiri juga dilaksanakan oleh baginda Nabi Muhammad saw semasa beliau hidup, hal ini seperti Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang berbunyi:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، عَنْ أَبِي حَصِينٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ العَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا (رواه البخاري)

– البخاري :  وهو أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بَردِزبَة الجعفي البخاري.

Artinya:

Dari Abu Hurairah ra. (w. 59 H) berkata; Nabi ﷺ selalu beriktikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, beliau beriktikaf selama dua puluh hari”.

HR. Al-Bukhari (194 H – 256 H : 62 tahun).

Dalam redaksi Hadis di atas kita dapat melihat bahwa Rasulullah saw beriktikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari atau dua puluh hari. Namun, Imam Bukhari dalam Shahihnya memasukkan Hadis ini dalam bab “الِاعْتِكَافِ فِي الْعَشْرِ الْأَوْسَطِ مِنْ رَمَضَانَ” dan penempatan Hadis ini dalam bab tersebut menurut Imam Ibnu Hajar dalam kitab Syarh shahih Bukhari  seakan-akan merupakan penunjukan Imam Bukhari bahwa iktikaf tidak diharuskan dilaksanakan pada sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, meskipun iktikaf apabila dilaksanakan di waktu itu lebih baik.

Apabila kita mengikuti pendapat mazhab Syafii yang terkandung dalam kitab Fathul Qorib, maka iktikaf merupakan kesunnahan yang dapat dilaksanakan kapanpun, dan waktu afdholnya adalah sepuluh hari terakhir bulan ramadhan karena mengharapkan malam lailatul qadr. Semoga kita semua dapat menyemarakkan bulan Ramadhan dan mendapatkan kelebihan-kelebihan yang terdapat didalamnya, aamiinn…

Wallahu A’lam

Oleh Muhammad Faidhur Rahman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here