Pada bulan rajab seringkali kita mendapatkan berita tentang hadis keutamaan puasa di bulan rajab. Baik yang hadis Shahih maupun Dhaif, bahkan banyak dari kita yang mendapatkan broadcastan hadis maudhu’ atau palsu. Lalu bagaimakah sebenarnya hukum melaksanakan puasa di bulan rajab?

Rasulullah Saw bersabda dalam Shahih muslim:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ وحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ سَأَلْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبٍ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِي رَجَبٍ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ (رواه مسلم)
مسلم :أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري.

Artinya:
Dari Utsman bin Hakim Al Anshari ia berkata; Saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab; Saya telah mendengar Ibnu Abbas ra. (w.68 H) berkata; Dulu Rasulullah saw. pernah berpuasa hingga kami berkata berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.”
HR. Muslim (204 H – 261 H), 57 tahun.

Pandangan Imam al-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim memahami hadis diatas, sebagai berikut:

الظّاهِر أنّ مرادَ سعِيد بن جُبير بِهذا الاسْتِدلال أنّهُ لا نهْيَ عنه ولا ندبَ فيْه لِعيْنِه بلْ لهُ حكمُ باقِي الشُّهور ولمْ يثبتْ في صومِ رجبَ نهيٌ ولا نَدب لِعينه وَلكِن أصْل الصّومِ منْدوبٌ إليه وفي سُنن أبِي داودَ أنّ رسولَ اللّه صلّى اللّه عليه وسلّمَ ندبَ إلى الصّومِ مِن الأشهُر الحُرُم ورجبُ أحدُها

Artinya: Istidlal yang dilakukan Sa’id Ibnu Jubair menunjukkan tidak ada larangan dan kesunahan khusus puasa di bulan rajab. Hukumnya disamakan dengan puasa di bulan lainnya, sebab tidak ada larangan dan kesunahan khusus terkait puasa rajab. Akan tetapi hukum asal puasa adalah sunah. Di dalam Sunan Abi Dawud disebutkan Rasulullah menganjurkan puasa di al-Asyhur al-Hurum (bulan-bulan terhormat). Sementara rajab termasuk salah satunya

Lantas bagaimana pandangan 4 madzhab mengenai puasa rajab ini,

• Malikiyah

Dalam kitab Syarh ad-Dardir ‘ala khaliil disebutkan bahwa disunnahkan puasa di bulan Muharram, Rajab, Sya’ban. Dan puasa yang paling baik yaitu puasa pada bulan-bulan haram, (Muharram, Rajab, dzulqa’dah dan dzulhijjah)

• Hanafiyah

Dalam kitab al-Fatawa al-Hindiyah disebutkan bahwa puasa sunnah yang paling utama ialah puasa muharam, lalu puasa di bulan Rajab, lalu puasa di bulan sya’ban, lalu puasa Asyura.

• Syafi’iyah

Dalam kitab nihayatul muhtaj disebutkan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa muharram kemudian puasa rajab.

• Hanabilah

Boleh melaksanakan puasa di bulan Rajab asalkan tidak sebulan penuh agar tidak sama dengan puasa Ramadhan.

Dari redaksi kitab diatas, ulama Madzahib al-Arba’ah secara umum berpendapat puasa rajab itu sunah, dengan berbagai tendensi dan ‘illat masing masing, hanya saja Hanabilah mensyaratkan tidak boleh ifrod rajab bi as Shoum jika ingin mendapat kesunahan.

Permasalahan mengenai hadis keutamaan puasa di bulan rajab, dengan beragam pahala yang sesuai dengan kuantitas puasanya, itu bagian dari kasus lain lagi.

Waallahu a’lam

Oleh Sufyan Jawahir
————————
Jangan lupa ikuti media kami :
📷 : http://bit.ly/Rasionalika_Darussunnah
Yuk, wakaf untuk Darus-Sunnah, Pesantren Hadis Pertama di Indonesia:
💳 : https://nucare.id/program/wakafpesantren
[Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here