ONE DAY ONE HADITH
Kamis, 22 Jumadilakhir 1442 H/ 4 Februari 2021 M

Apakah Makmum Wajib Membaca al-Fatihah?

بسم الله الرحمن الرحيم

صحيح مسلم : كتاب الصلاة

باب : وجوب قراءة الفاتحة في كل ركعة وإنه إذا لم يحسن الفاتحة

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ سُفْيَانَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
(رواه مسلم)
مسلم :أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري.

Artinya:
Dari Ubadah bin al-Samit (W. 34 H), hadis ini sampai kepada Nabi ﷺ, “Tidak sah salat seseorang yang tidak membaca Fatihat al-kitab.”
HR. Muslim (204 H – 261 H) 57 tahun.

Istifadah:
Membaca al-Fatihah merupakan salah satu dari rukun salat yang harus dilakukan. Karena akan berakibat kepada sah atau tidak salat seorang muslim.

Lalu, bagaimana jika kita salat berjemaah? Apakah makmum tetap harus membaca al-Fatihah?

Disebutkan di dalam Kasyifat al-Saja Syarh Safinat al-Naja karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi

وَتَجِبُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ سَوَاءٌ الصَّلاَةُ السِّرِّيَّةُ وَالْجَهْرِيَّةُ وَسَوَاءٌ اْلإِمَامُ وَالْمَأْمُوْمُ وَالْمُنْفَرِدُ لِخَبَرِ الصَّحِيْحَيْنِ: لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Artinya: (Membaca al-Fatihah) wajib di setiap rakaat, baik salat dengan bacaan pelan (Zuhur dan Asar), ataupun keras (Magrib, Isya, Subuh dan Jumat), sebagai imam, makmum ataupun sendirian, sesuai dengan hadis riwayat al-Bukhari Muslim: “Tidak sah salat orang yang tidak membaca al-Fatihah.”

Dari penjelasan tadi, tampaklah bahwa dalam salat berjamaah pun, seorang makmum tetap harus membaca al-Fatihah.

Lalu bagaimana dengan makmum yang masbuk ?
Perlu kita ketahui di dalam salat berjamaah, ada makmum masbuk dan makmum muwafiq.

Makmum masbuk ialah yang mendapati imam pada saat berdiri sebelum rukuk tapi tidak menemukan waktu yang cukup untuk menyempurnakan bacaan Fatihah-nya dirinya sendiri karena imam sudah rukuk terlebih dahulu sebelum bacaan Fatihah-nya ia baca secara komplet.

Makmum muwafiq ialah yang mendapati imam pada saat berdiri sebelum rukuk dan mempunyai waktu yang cukup untuk menyempurnakan bacaan al-Fatihah-nya sendiri sebelum imam beranjak untuk rukuk.

Maka bagi makmum masbuk, ketika imam sudah ruku dan bacaan al-Fatihah belum sempurna, maka makmum wajib langsung rukuk bersama imam sampai dia yakin bisa tuma’ninah rukuk bersamaan dengan tuma’ninah rukuk imam. Jika tidak, maka satu rakaat makmum tidak terhitung, dan nanti wajib menambah satu rakaat.

Namun, bagi makmum muwafiq , ketika imam sudah rukuk, namun bacaan al-Fatihah belum sempurna. Maka, ia wajib menyempurnakannya walaupun ia akan tertinggal dari gerakan imam sampai batas imam bangun dari sujud yang kedua.
Waallahu a’lam

Oleh Nadiya Lil Khairi
————————
Jangan lupa ikuti media kami :
📷 : http://bit.ly/Rasionalika_Darussunnah
Yuk, wakaf untuk Darus-Sunnah, Pesantren Hadis Pertama di Indonesia:
💳 : https://nucare.id/program/wakafpesantren
[Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here