Home Blog

Kedahsyatan Al-Ikhlas

0

rasionalika.darussunnah.sch.id – Iklas itu, layaknya Surat Al-Ikhlas, Dinisbatkan sebagai nama suratnya, Namum dalam keempat ayatnya tidak ada kata Ikhlas ataupun kata turunannya. وجوده كعدمه (Antara ada dan tiada)
Berbicara tentang Surat Al-Ikhlas, dibalik kepopulerannya di setiap kalangan, baik balita, remaja, maupun lansia ternyata surat ini memiliki banyak sekali keutamaan, diantaranya; Al-Ikhlas merupakan sepertiga dari Al-quran. Benarkah demikian?

Mari kita simak hadis tentang keutamaan Al Ikhlas, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ وَالضَّحَّاكُ الْمَشْرِقِيُّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ الْقُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَقَالُوا أَيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ ثُلُثُ الْقُرْآنِ (رواه البخاري)

-بخاري : أبو عبدالله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن مغيرة بن بردزبة الجعفي البخاري

Artinya :

Dari Abu Sa’id Al Khudri (W. 74H)radhiallahu’anhu, ia berkata; Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabatnya, “Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu bila ia membaca sepertiga dari Al-Qur’an pada setiap malamnya?” dan ternyata para sahabat merasa kesulitan seraya berkata, “Siapakah di antara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah?” maka beliau pun bersabda, “ALLAHUL WAAHID ASH SHAMAD (maksudnya surah Al-ikhlash) nilainya adalah sepertiga Al-Qur’an.”
HR. al-Bukhari (194 H – 256 H : 62).

Istifadah :
Surat Al-Ikhlas Termasuk golongan surah makkiyah terdapat di juz akhirdalam Al-Qur’an, surat ke 112 dari 114 surat dalam Al-Qur’an. Esensi dari surat ini, atau asal muasal turunnya surat ini iyalah sebagai penegas keesaan Allah, yang mana dalam keempat ayatnya mengandung makna tauhid yang amat dalam. Dimana, pada saat itu orang-orang bertanya tentang esensi Tuhan yang di sembah oleh nabi Muhammad Saw.

Sebagaimana yang kita ketahui, al-quran merupakan mu’jizat dari Allah yang dianugerahkan kepada Baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Hakita dari Al-quran sebagai mu’jizat tak heran jika setiap ayatnya memiliki keistimewaan, kedahsyatan, keutamaan dan mistik tersendiri.

Al-Ikhlas misalnya, surat ini termasuk surat yang disukai oleh seluruh kalangan, yang tak banyak dari mereka belum mengetahui banyaknya keutaman surat ini, salah satunya seperti yang tercantum dalam hadis di atas. Yakni Al-Ikhlas diperumpamakan dengan seperti al-quran.

Bahkan didalam kitab riyadus solihin pada bab pembahasan Surat-surat dan ayat-ayat khusus باب الحث على سور وآيات مخصوصة disebutkan pula, bahwa kecintaan kita kepada Al-Ikhlas sehingga mampu untuk mengistiqomahkan dalam pelafalannya mampu memasukkan kita ke dalam surganya Allah SWT.

Wallahu a’lam

Oleh Naja Saniatur R

Waktu Berkurban

0
rasionalika.darussunnah.sch.id – Setelah memijaki  hari-hari awal di bulan Dzulhijjah sudah pasti hari raya idul Adha semakin mendekat, sebagian sunnah mungkin telah dilaksanakan seperti berpuasa, persiapannyapun semakin matang seperti bertebarannya jual beli Sapi dan kambing di segala penjuru, Mengisi ulang toples kosong dan banyak lagi.
Berbicara tentang hari raya idul adha sama halnya dengan berbicara tentang Qurban. sebab, esensi dari hari raya idul Adha itu sendiri ialah “Berqurban” . Beberapa Hewan qurban terbaik mungkin telah dibeli dan diasingkan yang kemudian akan disembelih tepat di tanggal 10 Dzulhijjah nantinya. Adapun waktu mustajabah (Disunnahkan) untuk menyembelih hewan kurban yang disabdakan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, sebagaimana yg diriwayatkan dari imam Bhukhari dalam kitabnya Shahih Al-Bukhari sebagai berikut
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ زُبَيْدٍ الْإِيَامِيِّ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نُصَلِّيَ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرَ مَنْ فَعَلَهُ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلُ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنْ النُّسُكِ فِي شَيْءٍ فَقَامَ أَبُو بُرْدَةَ بْنُ نِيَارٍ وَقَدْ ذَبَحَ فَقَالَ إِنَّ عِنْدِي جَذَعَةً فَقَالَ اذْبَحْهَا وَلَنْ تَجْزِيَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ
قَالَ مُطَرِّفٌ عَنْ عَامِرٍ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلَاةِ تَمَّ نُسُكُهُ وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ(رواه البخاري)
البخاري : أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بَردِزبَة الجعفي البخاري
Artinya :
Dari Al Barra`(w. 72 H) radhiallahu’anhu dia berkata; Nabi ﷺ bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali kita lakukan pada hari ini (‘Iduladha) adalah mengerjakan shalat kemudian pulang dan menyembelih binatang kurban, barangsiapa melakukan hal itu, maka dia telah bertindak sesuai dengan sunnah kita, dan barangsiapa menyembelih biantang kurban sebelum (shalat ied), maka sesembelihannya itu hanya berupa daging yang ia berikan kepada keluarganya, tidak ada hubungannya dengan ibadah kurban sedikitpun.” Lalu Abu Burdah bin Niyar berdiri seraya berkata, “Sesungguhnya aku masih memiliki jad’ah (anak kambing yang berusia dua tahun), maka beliau bersabda, “Sembelihlah, namun hal itu tidak untuk orang lain setelahmu.” Muttharif berkata; dari ‘Amir dari Al Barra`, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Barangsiapa menyembelih (hewan kurban) setelah shalat (ied) maka ibadah kurbannya telah sempurna dan dia telah melaksanakan sunnah kaum muslimin dengan tepat.”
 Istifadah :
Berkuban merupakan salah satu ibadah umat islam dalam upaya mendekatkan diri kepada tuhannya pula berbagi sesama. Dengan ritual menyembelih hewan kurban atau bisa disebut sebagai Udhiyyah(sesembelihan) yang mengatas namankan Allah, yang kemudian dihidangkan dan bibagikan sesama
Dengan syarat-syarat udhiyah dan ketentuannya Harus sehat,tidak ada cacat pada tubuh sembelihan,serta mendahului dengan kalimat takbir dan pujian kepada allah ketika berlangsung proses penyembelihan.adapun tempat yang dianjurkan ialah tempat yang bersih,dan sangat disunnahkan untuk menyembelih udhiyah  di tempat dimana kita melaksanakan solat ied Adha. alat pemotong harus tajam tidak boleh tumpul,sehingga dengan sekali gorokan saja sudah mampu memutus urat nadi udhiyah tersebut, lantas tidak ada unsur menyakiti hewan yang akan diqurbankan.

Hewan yang Tidak Boleh Dikurbankan

0
rasionalika.darussunnah.sch.id – Berkurban adalah salah satu sunnah yang awal mulanya disyariatkan melalui Nabi Ibrahim AS. dan putranya yakni Nabi Ismail AS. yang mana kisahnya sangat masyhur di kalangan kita. Berkurban merupakan amalan yang sangat menonjol pada tanggal 10 Dzulhijjah atau Idul Adha, sehingga pada hari itu orang-orang muslim akan merayakan kemenangan dengan menyembelih hewan kurban. Adapun hewan kurban yang akan dikurbankan hendaknya berupa hewan yang baik baik lahir maupun bathin.
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sahabat Barra’ bin Azzib pada kitab At-Tirmidzi berbunyi :
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ فَيْرُوزَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَفَعَهُ قَالَ لَا يُضَحَّى بِالْعَرْجَاءِ بَيِّنٌ ظَلَعُهَا وَلَا بِالْعَوْرَاءِ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَلَا بِالْمَرِيضَةِ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَلَا بِالْعَجْفَاءِ الَّتِي لَا تُنْقِي
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عُبَيْدِ بْنِ فَيْرُوزَ عَنْ الْبَرَاءِ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا الْحَدِيثِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ.
– الترمذي : أبو عيسى محمد بن عيسى بن سورة بن موسى بن الضحاك السلمي الترمذي.
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr berkata, telah mengabarkan kepada kami Jarir bin Hazim dari Muhammad bin Ishaq dari Yazid bin Abu Habib dari Sulaiman bin ‘Abdurrahman dari Ubaid bin Fairuz dari Al Bara bin Azib ia memarfu’kannya (kepada Nabi ﷺ), beliau bersabda, “Tidak boleh berkurban dengan kambing pincang dan jelas kepincangannya, atau kambing yang buta sebelah dan jelas butanya, atau kambing yang sakit dan jelas sakitnya, atau kurus yang tidak bersumsum (berdaging).” HR. At Tirmidzi (209 H – 279 H) 70 Tahun.
Abu Isa berkata, “Hadits ini derajatnya hasan shahih, dan kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Ubaid bin Fairuz, dari Al Bara. Hadits ini juga menjadi pedoman amal menurut para ulama.”
Istifadah:
Berkurban saat Idul Adha hukumnya wajib bagi yang mampu, sesuai pendapat Imam Abu Hanifah. Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Al Syafi’i hukumnya sunnah muakkad atau sunnah yang dikuatkan.
Selain itu, berkurban juga bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir pada hari raya Idul Adha. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Hajj yang berbunyi.
“Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. al-Hajj, 22:28)
Semua ibadah dalam syariat Islam akan dihukumi sah apabila ibadah tersebut sesuai dengan hukum dan syarat. Begitu pula berkurban, ketika seseorang hendak berkurban maka alangkah baiknya berkurban dengan hewan kurban yang baik secara lahir maupun bathin. Maksudnya baik secara lahir yakni hewan tersebut sehat tidak sakit maupun cacat fisiknya, lalu baik secara bathin yakni harta atau kebutuhan untuk membeli atau merawat hewan kurban tersebut menggunakan harta atau benda yang halal didapatnya. Maka apabila semuanya telah memenuhi hal-hal tersebut hewan kurban tadi akan diterima dan dihukumi sah.
Wallahu a’lam
Oleh Ghina Farhanah

Menyembelih Kurban Orang Lain

0
rasionalika.darussunnah.sch.id – Semarak hari besar Islam hari raya kurban akan sampai pada puncaknya di tanggal 20 Juli. Umat muslim serentak menggelar tanah lapang untuk dijadikan lokasi peribadatan, tidak lupa menyesuaikan sikon Covid-19 pada domisilinya.
Banyak lembaga yang bersedia menerima penyaluran hewan kurban untuk memudahkan muslim lain yang belum bisa mengurusnya sendiri, lantas apakah alasan yang membenarkan jasa titip penyembelihan hewan kurban ini?. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ibunda Aisyah ra. pada kitab Shahih Al-Bukhari.
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَرِفَ وَأَنَا أَبْكِي فَقَالَ مَا لَكِ أَنَفِسْتِ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ اقْضِي مَا يَقْضِي الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ وَضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نِسَائِهِ بِالْبَقَرِ
– البخاري : أبو عبد الله ” محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بَردِزبَة الجعفي البخاري.
Artinya:
Dari Aisyah ra. (w. 58 H) dia berkata; Rasulullah saw menemuiku ketika berada di Sarif, sementara aku sedang menangis, lalu beliau bertanya, “Kenapa denganmu? Apakah kamu haid?” Jawabku, “Ya” beliau bersabda, “Ini adalah suatu perkara yang telah ditetapkan Allah atas para wanita anak Adam, lakukanlah sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang berhaji, namun kamu jangan melakukan tawaf di Ka’bah.” Setelah itu Rasulullah saw berkurban untuk para istrinya dengan seekor sapi.”
Imam Al-Bukhari (194 H – 256 H, 62 tahun)
Istifadah:
Dengan gamblang hadis di atas memberikan sebuah isyarat kebolehan meminta bantuan dari lembaga kurban untuk menyembelih serta membagi hewan kurban.
Dalam Islam kegiatan kurban ini memiliki tata cara yang tabu, perlu berhati-hati dalam proses perawatan, penyembelihan serta pembagiaanya.
Maka di antara manfaat mengamanahkan sebuah lembaga terpercaya ialah untuk mempermudah kita dalam menunaikan ibadah kurban. Perlu juga sekiranya orang yang berkurban untuk memilah dengan baik lembaga yang terpercaya agar hewan kurban tak diselewengkan.
Wallahu A’lam
Oleh Mifta Dwi Kardo

Tempat Penyembelihan Hewan Kurban

0
rasionalika.darussunnah.sch.id – Umat Islam seluruh dunia sebentar lagi akan merayakan hari raya Idul Adha di tahun 1442 H ini. Berbagai persiapan menyabut hari raya yang identik dengan pemotongan hewan kurban ini sudah mulai terlihat di berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya adalah dengan banyaknya penjual hewan kurban di pinggir-pinggir jalan.
Dan pelaksanaan pemotongan hewan kurban sendiri bisa dilaksanakan pada hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari tasyrik (11-13 Dzulhijjah). Adapun tempat pelaksanaan penyembelihan hewan kurban itu telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dalam kitab Shahih Al Bukhari, yang diterima dari sahabat Ibnu Umar R.A :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ كَثِيرِ بْنِ فَرْقَدٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْبَحُ وَيَنْحَرُ بِالْمُصَلَّى  (رواه البخاري)
البخاري : أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بَردِزبَة الجعفي البخاري
Artinya :
Dari Ibnu Umar (w. 73 H) radhiallahu’anhuma telah mengabarkan kepadanya, dia berkata, “Rasulullah ﷺ biasa menyembelih binatang kurban di tempat yang di gunakan untuk shalat (ied).”
H.R Al Bukhari: (194 H – 256 H : 62 Tahun)
Istifadah :
Dalam Hadis ini jelas sekali disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menyebelih hewan kurban ditempat beliau melaksanakan shalat Id. Dan sebagaimana kita ketahui, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam biasa melakukan shalat Id di lapangan (kecuali saat hujan), maka tidak heran bila beliau menyembelih hewan kurban di tempat beliau shalat, karena lapangan tersebut memang telah disiapkan juga sebagai tempat penyembelihan hewan kurban.
Maka disunnahkan juga bagi umat Islam yang shalat sunnah Idul Adha nya dilapangan untuk menyembelih hewan kurban dilapangan tempat masyarakat shalat, itu pun jika memungkinkan dan telat memenuhi standar untuk dijadikan tempat penyembelihan.
Adapun bagi Umat Islam yang shalat sunnah Idul Adha nya di Mesjid, tentu tidak boleh menyembelih hewan kurban di mesjid dengan memahami hadis diatas secara tekstual saja. Maka bagi umat Islam yang shalat sunnah Idul Adha nya di Mesjid, maka tempat penyembelihan hewan kurban nya adalah dilapangan atau tanah Luas yang memadai untuk dilaksanakan penyembelihan yang paling dekat dengan Mesjid tempat shalat Id.
Dan dalam pemilihan tempat nya tidak terlalu banyak syarat atau ketentuan dalam Islam, selama tempat itu luas, bersih dan dekat dengan masyarakat, agar mudah dalam pendistribusian daging kurbannya, maka tempat itu boleh digunakan sebagai tempat penyembelihan hewan kurban.
Wallahu a’lam
Oleh M. Iqbal Akmaludin

Orang yang Berkurban Tidak Memotong Kuku

0
rasionalika.darussunnah.sch.id – Sebentar lagi kita akan menyambut Hari Raya Idul Adha, banyak sekali sunnah-sunnah yang bisa kita dapatkan pada bulan dzulhijjah ini. Adapun sunnah bagi orang yang hendak berkurban adalah dengan tidak memotong kukunya, dari tanggal 1 Dzulhijjah sampai ia berkurban. Pendapat ini lah yang dipegang oleh jumhur ulama. Berikut adalah penjelasan hadisnya.
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يُحَدِّثُ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَتْ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا
قِيلَ لِسُفْيَانَ فَإِنَّ بَعْضَهُمْ لَا يَرْفَعُهُ قَالَ لَكِنِّي أَرْفَعُهُ
Artinya :
Dari Ummu Salamah (w.62 H) bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Jika telah tiba sepuluh (Zulhijah) dan salah seorang dari kalian hendak berkurban, maka janganlah mencukur rambut atau memotong kuku sedikitpun.”
H.R Muslim : (204 H – 261 H : 57 Tahun)
Istifadah :
Terkait hadis di atas, ada dua pendapat ulama mengenai siapakah yang harus dipotong kukunya? Apakah hewan sembelihan atau orang yang akan berkurban?
Bagi yang mengatakan yang dilarang adalah orang yang akan menyembelih karena dhamir (kata ganti) kembali kepada orang yang akan menyembelih. Logikanya adalah apa relevansi pemotongan kuku hewan? untuk itu kata ganti yang pas adalah pemilik kurban.
Pandangan yang kedua mengatakan bahwa dhamir-nya kembali kepada hewan kurban.
Adapun hikmah tidak memotong kuku dan rambut ketika hendak berkurban adalah :
Pertama, agar menyerupai orang yang sedang melakukan ihram haji. Pada saat mereka melakukan ihram haji, mereka tidak boleh memotong rambut dan kuku.
Yang kedua, agar semua bagian anggota tubuh orang yang berkurban tetap masih utuh hingga hewan kurbannya disembelih. Dengan demikian, semua anggota tubuhnya bisa mendapat jaminan terbebas dari api neraka.
Namun perlu diperhatikan, jika kondisi kuku sudah sangat panjang, hitam dan kotor sehingga tidak elok rasanya makan dengan tangan berkuku seperti itu maka dianjurkan untuk dipotong saja. Karena di atas kita sudah katakan bahwa jumhur ulama mengatakan tidak potong kuku dan rambut itu adalah sunnah bukan wajib.
Wallahu a’lam
Oleh Sri Satyaningtyas

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah

0
rasionalika.darussunnah.sch.id – Bulan Zulhijah merupakan salah satu dari empat asyhur al-hurum, yakni bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah swt. Empat bulan tersebut ialah Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Zulhijah juga disebut sebagai bulan haji, karena pada bulan inilah ibadah haji dilaksanakan.
Ketika memasuki bulan ini kita dianjurkan oleh Nabi saw. untuk melakukan beberapa hal; utamanya pada sepuluh hari awal. Karena, amal kebaikan pada hari itu amat dicintai oleh Allah swt., sebagaimana terdapat dalam kitab Sahih al-Bukhari,
كِتَابُ الْعِيدَيْنِ: بَابُ فَضْلِ الْعَمَلِ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ سُلَيْمَانَ ، عَنْ مُسْلِمٍ الْبَطِينِ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : ” مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِي هَذِهِ “. قَالُوا : وَلَا الْجِهَادُ ؟ قَالَ : ” وَلَا الْجِهَادُ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ “. (رواه البخاري)
– البخاري : أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بَردِزبَة الجعفي البخاري.
Artinya: Dari Abdullah Ibn Abbas, dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda: “Tidak ada hari di mana amal kebaikan saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini. Rasulullah menghendaki 10 hari (awal Dzulhijjah). Lantas para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?’ Rasulullah shallalâhu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun (mati syahid)’.” (HR. Al-Bukhari).
Al Bukhari (194 H – 256 H, 62 tahun)
Lalu dengan apa kita mengisi 10 hari awal bulan Zulhijah?
1. Memperbanyak Zikir
Seperti membaca tahlil, tahmid, dan takbir. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani, Nabi Saw. bersabda;
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلاَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ، فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ –
“Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan pada hari ini (tanggal 1 – 10 Dzulhijjah). Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.”
2. Berpuasa
Yaitu pada tanggal 1 sampai 9 Zulhijah. Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud:
 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ؛ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
Artinya: “Rasulullah Saw biasa berpuasa pada sembilan hari awal Zulhijah, pada hari Asyura (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, dan awal bulan di hari Senin dan Kamis.”
Wallahu a’lam
Oleh: Baharudin Ardani

Perdagangan Manusia

0

rasionalika.darussunnah.sch.id – Islam, sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Wujud kemuliaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dapat dilihat dalam aturan syariat yang begitu ketat memberikan hukuman kepada setiap orang yang melanggar hak-hak asasi manusia. Selain itu, pemuliaan Allah Swt. terhadap eksistensi manusia juga ditegaskan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhori dalam kitab shahihnya, pada bab “Dosa menjual orang yang merdeka”, mengatakan :

حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ مَرْحُومٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ

 البخاري : أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بَردِزبَة الجعفي البخاري

Artinya :
Dari Abu Hurairah ra. (w.57) dari Nabi saw. bersabda, “Allah Swt. berfirman : Ada tiga jenis orang yang Aku menjadi musuh mereka pada hari kiamat, seseorang yang bersumpah atas namaku lalu mengingkarinya, seseorang yang menjual orang yang telah merdeka lalu memakan (uang dari) harganya dan seseorang yang memperkerjakan pekerja kemudian pekerja itu menyelesaikan pekerjaannya namun tidak dibayar upahnya”.
HR. al-Bukhori (194 H – 256 H : 62 tahun)

Manusia merupakan makhluk Allah Swt. yang paling mulia, manusia diberi akal untuk berfikir, bentuk rupa yang baik, kemampuan berbicara, serta hak kepemilikan yang Allah Swt. berikan di dunia, dan tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya. Ketika Islam memandang manusia sebagai pemilik, maka hukum asalnya adalah manusia tidak dapat dijadikan sebagai barang yang dapat dimiliki atau diperjual-belikan. Hal ini berlaku bagi manusia yang berstatus merdeka, oleh karena itu Islam datang guna membebaskan budak-budak yang beragama Islam.

Dalam hadis ini, menjelaskan bahwa penjualan manusia merdeka itu haram hukumnya. Bahkan, ketika seseorang memperkerjakan orang merdeka kemudian ia tidak menepati upah yang telah disepakati, maka hal ini sama dengan memakan hasil penjualan manusia merdeka. Dalam riwayat Abu Dawud dari Abdullah bin umar juga menyebutkan :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ثلاثة لا تقبل لهم صلاة الرجل يؤم القوم وهم له كارهون والرجل لا يأتي الصلاة إلا دبارا يعني بعد ما يفوته الوقت ومن اعتبد محررا.

Bahwasanya tiga golongan yang tidak akan diterima shalatnya, diantaranya yaitu orang yang memperbudak orang yang merdeka.

Eksploitasi manusia untuk dijual atau biasa disebut dengan human trafficking ini haram hukumnya karena merusak hak asasi manusia dan melanggar hak Allah. Barang siapa mengambil hak kepemilikan orang lain baik dari hasil kerjanya maupun upahnya, maka hal yang demikian termasuk memakan harta dengan batil.

Wallahu a’lam

Oleh Ilmi Rosyada

Bahaya Orang Bermuka Dua

0

rasionalika.darussunnah.sch.id -Di zaman sekarang ini banyak sekali orang orang yang bermuka dua, atau bisa disebut juga sebagai orang munafik. Di dalam islam sendiri orang munafik adalah salah satu kategori atau termasuk golongan yang tarafnya lebih rendah daripada umat muslim lainnya.

Tindakan kemunafikan atau bermuka dua itu sendiri disadari atau tidak sudah ada sejak zaman dahulu hingga hari ini, misalnya ada sebagian orang yang memuji kinerja pemimpin di depannya, tapi ketika sedang tidak bersama pemimpin tersebut, mereka mencela dan mengkritik tajam.

Sungguh perbuatan yang seperti ini sangat dibenci oleh Allah swt .
Sebagaiamana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah R.A dalam kitab shahih Bukhari:

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَجِدُ مِنْ شَرِّ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ ب

Abu Hurairah ra. berkata (w.57 H) Nabi saw bersabda, “Kamu akan mendapati orang yang paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah orang yang bermuka dua, yang datang dengan satu muka dan datang kepada orang lain dengan muka yang lain.”
H.R Bukhari (194 H – 256 H : 62 Tahun).

Hadis diatas menunjukkan bahwasannya orang yang bermuka dua atau orang munafik itu sangatlah tidak disukai Allah SWT, dan Maksud dari “bermuka dua” dalam hadis tersebut yaitu orang yang menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya ketika bertemu dengan seseorang atau sekelompok orang yang dia benci/musuhi dengan mengatakan perkataan atau sikap yang berbeda dengan apa yang disimpan dalam hatinya .

Bagaimanapun orang yang bermuka dua sangatlah berbahaya, ibarat lainnya adalah musuh dalam selimut yang sulit dibuktikan dan dideteksi kenunafikannya.

Adapun dalam Al-Quran tertulis dalam surah Al-Baqarah ayat 14 yang berbunyi:

قال الله تعالى : وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّا ۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ ۙاِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ (البقرة : ١٤)

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman.’ Dan jika mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok’.” (Al-Baqarah:14)

Dalam ayat tersebut yang dimaksud dengan orang bermuka dua sendiri itu adalah sekumpulan orang orang munafik yang mengaku beriman ketika mereka bersama kaum mukminin , tetapi ketika mereka kembali kepada kelompoknya mereka kembali lagi pada kekufuran mereka , dan mereka ini lebih berbahaya dari orang orang kafir yang jelas menampakkan kekafirannya.

Maka dari itu kita sebagai umat muslim tentu saja harus menjauhi sifat dan perbuatan munafik seperti itu, naudzubillah.

Wallahu A’lam

Oleh M. Naufal Kamali

Tangisan Adalah Siksaan

0

rasionalika.darussunnah.sch.id – Di akhir zaman ini, banyak ulama-ulama kita yang meninggal. Jerit tangis dan kesedihan yang dialami umat ini selalu menjadi peristiwa baru yang senantiasa bergilir setiap waktu. Sebagaimana wafatnya baginda kita Nabi Muhammad saw yang kepergiannya memberikan kesedihan terhadap banyak orang, sama halnya dengan kepergian ulama dan tokoh pendirinya yang mempengaruhi banyak orang sekarang.

Bahkan jangankan mereka, seandainya orang yang kita sayangi atau yang kita kenalpun pergi menghadap kepada-Nya , niscaya kesedihan akan menyelimuti dalam diri dan raga. Namun tahukah kalian? Kesedihan yang kita rasakan pada mereka justru bisa memberatkan mereka di alam kubur.

Hal ini dituturkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shaihnya:

وَحَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ ، حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ ، أَنَّ سَالِمًا ، حَدَّثَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الْحَيِّ “. رواه مسلم
مسلم : أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري

Dari sahabat Abdullah bin Umar (w. 73 H) bahwasanya Nabi saw pernah bersabda, ” Sesungguhnya mayit bisa diazab sebab tangisannya orang yang masih hidup “.
H.R Muslim (204 H – 261 H : 57 tahun)

Hadis di atas mengisyaratkan bahwa, di samping menangis adalah fitrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia ketika bersedih, namun juga memiliki batas yang tidak boleh dilewati. Dampaknya, tangisan yang berlebihan akan mengakibatlan siksaan yang pedih bagi mayat.

Di sisi lain, sebaiknya juga bukan hanya sekedar menangisi, namun juga mendoakan untuk ketenangan dan kebahagian sang mayat. Hal ini lebih bermanfaat dan beguna ketimbang harus meratapinya tanpa ada kemanfaatan yang didapat oleh mayit.

Dalam kitab Hujjah Ahli Sunnah wal Jamaah karangan Kiai Ali Maksum, beliau mengutip pendapat-pendapat ulama yang menyatakan bahwa hadiah yang kita berikan kepada mayit (al-Fatihah, doa, tahlil, zikir dan wirid lainnya) itu dapat sampai kepadanya. Dalam riwayat lain, Rasulullah juga pernah menaruh pelepah kurma di atas kuburan seseorang yang beliau dengar sedang mengalami siksaan berat. Lantas beliau bersabda “Semoga pelepah ini bisa meringankan siksaannya”.

Semoga dengan kita mendoakan mayat, Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan menempatkannya di tempat yang terbaik, lantas memberikan kita kesadaran bahwa semua yang terjadi sudah atas kehendak-Nya.

Wallahu A’lam

Oleh Ahmad Rifai